Potensi Ekonomi Kota Kediri

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB)

Perekonomian di tingkat Nasional maupun pertumbuhan perekonomian di tingkat Jawa Timur, sangat mempengaruhi kinerja ataupun pertumbuhan ekonomi di tingkat Daerah dalam hal ini Kota Kediri.

Perkembangan nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) periode tahun 2005-2010, mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 meningkat sebesar 15,53% dari tahun sebelumnya yaitu Rp.3 1,680 triliun, tahun 2006 sebesar Rp.37,743 triliun atau meningkat 19,14% dari tahun 2005, kemudian meningkat lagi pada tahun 2007 sebesar 10,70% menjadi Rp.41,784 triliun, tahun 2008 meningkat 15,99% menjadi Rp.48,461 triliun, tahun 2009 meningkat 13,82% menjadi Rp.55,158 triliun, dan pada tahun 2010 mencapai Rp.60,333 triliun (angka amat sangat sementara).

Sedangkan PDRB ADHK kurun waktu tahun 2005-2010 rata-rata mengalami kenaikan sebesar 4,24%; besaran nilai PDRB ADHK setiap tahunnya adalah : Rp. 18,792 triliun (2005); Rp. 19,768 triliun (2006); Rp.20,660 triliun (2007); Rp.21,662 triliun (2008); Rp.22,717 triliun (2009); Rp.23,584 triliun (2010) (angka amat sangat sementara).

 

PERTUMBUHAN EKONOMI

Pertumbuhan ekonomi Kota Kediri ditentukan oleh 2 hal yaitu, oleh perkembangan aktivitas perekonomian masyarakat Kota Kediri dan dipengaruhi pula oleh pertumbuhan atau peningkatan perekonomian skala Nasionai maupun Jawa Timur. Tingkat pertumbuhan perekonomian Kota Kediri dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan, baik itu dengan
adanya PT. Gudang Garam maupun tanpa adanya PT. Gudang Garam. Pertumbuhan ekonomi di Kota Kediri dengan adanya PT. Gudang garam dari tahun 2005-2010 sebagai berikut : 0,25% (2005); 5,19% (2006); 4,51% (2007); 4,66% (2008); 5,06% (2009); dan 7,12% (2010). Adapun pertumbuhan ekonomi Kota Kediri tanpa adanya                                                       PT. Gudang Garam tahun 2005-2010 adalah : 4,32% (2005); 4,21% (2006); 4,68% (2007); 5,05% (2008); 6,59% (2009) dan 7,24% (2010). Tingkat perkembangan masing-masing sektor penunjang pertumbuhan ekonomi sebagaimana terpapar pada tabel berikut ini:

 

Tabel 2.1

                                Pertumbuhan Ekonomi Kota Kediri, Tahun 2005-2010 (%)

Lapangan Usaha

                                            Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

2010*

Pertanian

3,11

2,46

02,15

0,91

2,23

1,54

Pertamb. & Penggalian

2,26

3,13

3,46

12,93

-35,17

4,22

Industri pengolahan

-2,07

4,21

3,84

3,68

3,57

8,25

Listrik,gas & air bersih

5,36

3,37

3,17

3,81

3,45

4,22

Bangunan

2,99

4,23

4,36

3,93

5,90

4,22

Perdagangan, Hotel & Resto

8,02

8,75

6,67

7,57

8,88

4,22

Pengangkutan & Komunikasi

5,74

8,37

7,94

10.09

11,12

4,22

Keu. Persewaan & jasa pers

3,83

4,12

4,17

4,69

8,63

4,22

Jasa-jasa

4,98

4,75

5,07

6,82

8,35

4,22

Dengan PT. GG

0,25

5,19

4,51

4,66

5,06

7,12

Tanpa PT. GG

4,32

4,21

4,68

5,05

6,59

7,24

*Sumber : Indikator Makro Pembangunan Daerah

*) Angka Sangat Sementara

 

INFLASI

Dari sudut pandang indikator inflasi, stabilitas ekonomi Kota Kediri terlihat cukup mantap. Hal ini bisa dilihat dari rata-rata laju inflasi di Kota Kediri yang tidak melebihi dua digit. Selama kurun waktu tahun 2006-2010, inflasi bulan Desember tertinggi terjadi pada tahun 2007 yang mencapai 1,28% sedangkan terendah tahun 2009 yang mencapai 0,63%, bahkan terjadi deflasi pada tahun 2008 sebesar 0,58%.

Untuk inflasi periode "tahun kalender" (Januari-Desember) tertinggi terjadi pada tahun 2008 yang mencapai 9,52%, sedangkan terendah terjadi pada tahun 2009 sebesar 3,60%.

Pada posisi bulan Desember, kondisi akhir tahun, maka besaran inflasi periode "year on yeai" nilainya sama dengan inflasi periode "tahun kalender".

                                               Tabel 2.2

Inflasi Bulanan, Tahun Kalender, year on year Tahun 2005-2010

                2006                 2007                   2008                   2009                   2010

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1. Desember

1,12

1,28

-0,58

0,63

1,13

2.Tahun Kalender

7,77

6,85

9,52

3,60

6,80

3. "year on year"

7,77

6,85

9,52

3,60

6,80

 

*Sumber: Indikator Makro Pembangunan Daerah

 

Selama kurun waktu tahun 2006-2010, inflasi periode "bulanan" (Desember) tertinggi terjadi pada tahun 2007 (1,28%), sedangkan terendah tahun 2009, yaitu 0,63%. Inflasi tahun 2010 naik 1,13%.

Pada inflasi periode "tahun kalender" (Januari-Desember), inflasi tahun 2006 (7,77%) tercatat paling tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun setelahnya. Adapun besaran inflasi adalah sebagai berikut ; 7,77%(tahun 2006); 6,85% (tahun 2007); 9,52% (tahun 2008); 3,60% (tahun 2009) dan 6,80% (tahun 2010). Inflasi periode "year on year' tahun 2009 (3,60%) paling rendah dibandingkan tahun 2006, 2007, 2008, 2010, dimana inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2008 yang mencapai 9,52%.

Inflasi di 7 kota di Jawa Timur yang masuk perhitungan inflasi nasional (Surabaya, Malang, Kediri, Jember, Sumenep, Probolinggo, Madiun). Tingkat inflasi tahunan (yoy) selama triwulan laporan yang tertinggi pada tahun 2010 adalah Kota Surabaya (7,34%), sementara inflasi terendah terjadi di Kota Madiun (6,53%). Sementara itu kediri mengalami inflasi sebesar (6,81%).

 

label 2.3

Inflasi di 7 Kota di Jawa Timur Tahun 2010

Wilayah

Inflasi <7ty(%)

Inflasi yoK(%)

Tw. III-2010

TW. IV-2010

Tw. III-2010

Tw. IV-2010

Jatim

3,40

1,49

6,31

7,10

Surabaya

6,30

1,31

6,72

7,34

Malang

2,00

1,76

5,43

6,70

Kediri

2,49

1,83

5,52

6,81

Jember

0,62

2,59

5,80

7,10

Sumenep

0,71

0,96

6,17

6,75

Probolinggo

5,40

0,54

7,17

6,68

Madiun

3,32

2,02

5,29

6,53

 

*Sumber: Kajian Ekonomi Regional Jatim, Triwulan IV/2010

 

Dalam rangka menjaga stabilitas harga dan inflasi di Kota Kediri, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) secara periodik telah melakukan pemantauan inflasi dan mengidentifikasi pola pasokan dan rantai distribusi komoditas-komoditas utama penyumbang inflasi di Kota Kediri. Dengan diketahuinya pola pasokan dan rantai distribusi, serta tata niaga komoditas, sumber-sumber penyebab inflasi di Kota Kediri dapat segera teridentifikasi dan pemerintah daerah bisa segera melakukan langkah-langkah antisipatif mengendalikan kenaikan harga dan pengendalian inflasi.

Sampai dengan akhir tahun 2010, Laju inflasi Kota Kediri masih tergolong dalam kategori rendah, masih dibawah 2 digit, yaitu "year on year" 6,80%. Tingginya inflasi pada volatile food ini disebabkan oleh kenaikan harga beberapa komoditas utama bahan makanan yang mempunyai bobot cukup tinggi dalam menyumbang inflasi seperti cabe merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, beras, ikan segar, serta beberapa kebutuhan pokok lainnya. Kenaikan harga terjadi, pada awalnya lebih banyak dipengaruhi oleh penurunan stok/pasokan akibat kondisi cuaca kurang baik dan munculnya gangguan hama pada beberapa jenis tanaman bahan pangan.

Hal ini berdampak pada ekspektasi kenaikan harga atau inflasi di masyarakat cenderung meningkat, hal ini dikarenakan adanya keyakinan konsumen maupun pedagang akan adanya peningkatan harga.